Resiko persalinan Cepat yang Wajib Diketahui


Persalinan cepat (Kondisi melahirkan sebelum waktunya), itu tidak berbeda dibandingkan kelahiran prematur. Di mana persalinan cepat ini terjadi di dalam kehamilan yang bulannya sudah cukup, memasuki usia kehamilan 37 minggu.


Mengenal persalinan cepat


Jadi persalinan cepat ini adalah proses persalinan di mana tak disadari seorang ibu, jadi tak merasakan kontraksi, tak merasa sakit, tiba-tiba saja sudah melahirkan. Siapapun bisa mengalami hal ini, baik itu bunda yang sudah mengandung anak pertama atau bukan.

Apakah berbahaya? Jawabannya iya, sudah pasti berbahaya apabila tak tahu tanda-tandanya, serta tak tahu cara menangani persalinan cepat dengan benar. Apa saja resikonya?

Resiko persalinan cepat


1. Resiko infeksi tali pusat

Bayi yang baru lahir dari persalinan cepat beresiko mengalami infeksi tali pusat. Contohnya karena pengguntingan tali pusat tak memakai peralatan steril. Hal itulah yang ditakutkan terjadi, karena biasanya persalinan cepat dilakukan di rumah dan bukan di rumah sakit.

2. Resiko Embolisasi

Ini juga merupakan resiko yang cukup fatal. Yakni terjadi kondisi embolisasi (Udara masuk melalui peredaran darah) – Di mana hal ini dapat mengakibatkan kematian mendadak pada ibu yang melahirkan.

3. Resiko Atopy

Resiko yang ketiga yakni atopy. Atopy adalah kontraksi tak bagus pada rahim sang ibu, yang dapat menjadi penyebab terjadinya perdarahan dengan jumlah banyak. Oleh karena rahim sang ibu mengalami persalinan cepat itu tak berkontraksi (Tak mengecil), oleh karena itu aliran darah pun mengalir dengan deras. Bisa juga disebabkan oleh proses yang sangat cepat dan robekan yang terjadi cukup banyak di dalam jalan lahir, bisa di bagian vag*na maupun serviks sang ibu.

4. Peningkatan angka kematian

Ini merupakan resiko yang tak dapat Anda pandang remeh. Disebabkan oleh kontraksi yang dasarnya itu mempunyai irama tersendiri, naik-turun-naik-turun, dst. Ketika sang ibu mengalami kontraksi, maka pembuluh darah di rahimnya pun terjepit, dan secara fisiologis akan membuat bayi jadi kekurangan oksigen.

Tetapi umumnya kontraksi diikuti periode relaksasi, dengan begitu akan memungkinkan bayi bisa memperoleh oksigen lagi. Dan bayi dapat beradaptasi untuk tenggang waktu di antara kontraksi & relaksasi sebelumnya. Bayi masih dapat menahan napas kurang lebih 3 menit.

Jika menyangkut kasus partus presipitatus maka bayi akan sulit untuk beradaptasi. Kontraksi demi kontraksi akan berlangsung cepat – Hanya berselang 1 menit, dan tak jarang kontraksi terjadi tanpa diikuti oleh kondisi relaksasi, jadi kontraksi terus menerus. Bayi pun tak bisa mendapatkan oksigen, kondisi ini dapat berakhir dengan kematian bayi.

5. Resiko bayi terjatuh

Proses persalinan terlalu cepat dapat meningkatkan resiko bayi terjatuh ke lantai. Dikarenakan terlambat memperoleh pertolongan dan gangguan pada pernafasan bayi. Alasannya karena lend*rnya tak dapat disedot, pernafasan bayi terganggu dan bayi tak memperoleh oksigen yang cukup.

Meminimalkan resiko


Anda sudah mengetahui berbagai resiko yang ada. Karena itu disarankan secepat mungkin menuju tempat bersalin terdekat di rumah sakit. Apalagi sebelumnya Anda pernah melahirkan seperti itu, bisa jadi berulang. Jangan menunggu saat-saat terakhir baru berangkat, sebaiknya Anda berjaga-jaga.

Penting untuk mengarahkan. Jadi jangan sampai bayi terjatuh, pegangi kepala bayi saat melahirkan cepat, lanjutkan prosesnya. Kondisi sekitar juga harus steril, termasuk gunting yang digunakan. Gunakan juga alas kain yang sudah dicuci serta disetrika. Gunakan antiseptik untuk mensterilkan peralatan dan perlengkapan yang digunakan.

Cek juga kondisi bayi dan ibu ke rumah sakit terdekat. Termasuk mengecek plasenta yang tertinggal, masalah robekan, dan lain-lain.

Jangan lupa untuk mencari bantuan tenaga medis juga. Terkadang sesudah bayi lahir plasenta si kecil masih belum langsung lepas.


Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Resiko persalinan Cepat yang Wajib Diketahui"

Posting Komentar