Apakah seorang ibu hamil boleh menjalani operasi?


Ibu hamil apakah boleh menjalani operasi? Beberapa macam penyakit yang diderita memang mengharuskan tindakan operasi, di mana pelaksanaannya tidak lagi bisa ditunda. Ini juga demi keselamatan ibu tersebut. Walaupun saat penderita sedang dalam kondisi hamil. Tetapi masih banyak yang meragukan tentang hal satu ini. Anda perlu untuk mengetahui apa saja resiko yang harus dilalui, apa saja yang tidak boleh dilakukan, untuk menjaga keselamatan sang ibu hamil walaupun dilakukan tindakan operasi.


Pendapat Ahli


Sebelum membahas lebih jauh mari mengetahui terlebih dahulu pendapat seorang ahli, Paul Aylin, seorang peneliti dan ahli epidemiologis Imperial College London dari negara Inggris menyebutkan jika bagi seorang ibu hamil yang hendak melakukan operasi, sebaiknya mempertimbangkan dahulu. Dengan kata lain apakah memang tindakan operasi itu sangat dibutuhkan atau tidak.

Berdasarkan penelitian yang pernah dilakukan disebutkan jika 47.628 ibu hamil yang melakukan operasi bedah non-obstetric, dan dari 143 operasi dilaporkan mengalami keguguran. Juga tiap 287 operasi yang dilakukan ditemukan 1 bayi lahir mati, di 31 operasi bahkan ditemukan 1 bayi yang lahir prematur. Tiap 39 operasi ada 1 bayi lahir tetapi berat badan kurang dari ideal. Dari 7.692 operasi ditemukan 1 kematian ibu yang melahirkan. Jadi di sini diketahui bahwa resikonya sangat tinggi.

Penting untuk mencari informasi


Sangat penting bagi seorang ibu hamil yang hendak menjalani operasi, bagi pihak keluarga untuk mencari informasi selengkap mungkin. Dan informasi-informasi tersebut termasuk obat-obatan yang dipakai, mulai pra-operasi, operasi & pasca operasi, prosedur operasi, dan juga resiko dan potensi komplikasi operasi yang bisa dialami baik oleh ibu hamil dan bayi.

Biasanya seorang dokter kandungan akan menghindari operasi saat awal kehamilan, atau waktu kurang dari 13 minggu. Ketika itu ari-ari atau plasenta masih belum terbentuk dengan sempurna, dan tindakan intervensi dikhawatirkan dapat mengakibatkan kondisi perdarahan yang dapat mengakibatkan keguguran pada janin. Untuk pertimbangan yang lain, di trimester ke – 1, janin sedang dalam kondisi pembentukan organ. Karena itu diusahakan pada waktu-waktu tersebut tak ada pemberian obat-obatan yang berbahaya, contohnya adalah anestesi, di mana jika dilakukan beresiko menyebabkan kecacatan pada bayi.

Kapan lagi tindakan operasi pada ibu hamil dihindari?

Selain kurang dari 13 minggu masa kehamilan, tindakan operasi pada seorang ibu hamil juga dihindari sesudah usia kehamilan mencapai 7 bulan. Trimester ke – 3. Sebab pada waktu-waktu ini resiko kontraksi rahim akan beresiko mengakibatkan terjadinya kelahiran prematur. Apabila memang terpaksa dilakukan operasi, maka sang ibu akan diberikan obat tokolisis yang berguna untuk mencegah terjadinya kontraksi rahim.

Saat operasi

Ketika dilakukan operasi, maka bius umumnya dilakukan regional. Dengan cara menyuntik pinggang belakang ibu hamil – Jadi efek pembiusan hanyalah separuh tubuh sana dan ibu hamil tetap sadar.

Mengapa melakukan ini? Supaya tidak mempengaruhi proses sirkulasi darah ke janin, obat yang diberikan pun dapat dibuat seminimal mungkin. Apabila bius total wajib untuk dilakukan maka pemantauan kondisi janin dengan CTG dan USG wajib dilakukan. Selain itu juga digunakan cara yang lebih canggih.

Setelah operasi, kondisi janin juga tetap dipantau. Radiasi, terapi obat, hormon, diet, dan hal lain dipastikan tak memiliki efek negatif untuk tumbuh kembang si kecil, serta kemampuan menyusui. Tetapi kontrol pasca-operasi tetap direkomendasikan untuk Anda lakukan. Sekian informasi tentang apakah ibu hamil itu boleh menjalani operasi atau tidak? Semoga membantu.


Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Apakah seorang ibu hamil boleh menjalani operasi?"

Posting Komentar